Showing posts with label Perubahan Masyarakat Dalam Islam. Show all posts
Showing posts with label Perubahan Masyarakat Dalam Islam. Show all posts

Saturday, December 8, 2012

Pembaruan Pemikiran Persatuan Islam (Persis)



 Pembaruan Pemikiran Persis
Oleh : Hamrullah

PENDAHULUAN

Indonesia kaya akan keanekaragaman budaya dan berbagai macam sejarah.Menelaah kembali asal usul dan perkembangan dari berbagai organisasi pembaharuan dalam bidang social dan pendidikan, bahwa tiap organisasi tersebut mempunyai sifatnya sendiri-sendiri yang dibentuk oleh lingkungannya. Lahirnya berbagai macam organisasi Islam di Indonesia sangat memberikan sikap nasionalisme dan patriotisme.
Dalam hal ini terkait dengan organisasi Islam di Indonesia sangat berpengaruh dalam kemajuan Islam yang memberikan sumbangsih kepada pembaharuan Islam di Indonesia sejah zaman dulu. Pada makalah ini masalah yang terkait mengenai keberdaan organisasi Islam yang salah satunya adalah Persatuan Islam Persis.
Organisasi Persatuan Islam (Persis) ini akan menjadi pembahasan yakni; meliputi bagaimana sejarah Persatuan Islam dan apa yang diberikan oleh Organisasi ini kepada Negara pada masanya tersebut. Semoga dalam makalah ini akan memberikan pengetahuan kepada kita.

PEMBAHASAN
A.  Sejarah Persatuan Islam
Tampilnya jam'iyyah Persatuan Islam (Persis) dalam pentas sejarah di Indonesia pada awal abad ke-20 telah memberikan corak dan warna baru dalam gerakan pembaruan Islam. Persis lahir sebagai jawaban atas tantangan dari kondisi umat Islam yang tenggelam dalam kejumudan (kemandegan berfikir), terperosok ke dalam kehidupan mistisisme yang berlebihan, tumbuh suburnya khurafat, bid'ah, takhayul, syirik, musyrik, rusaknya moral, dan lebih dari itu, umat Islam terbelenggu oleh penjajahan kolonial Belanda yang berusaha memadamkan cahaya Islam. Situasi demikian kemudian mengilhami munculnya gerakan "reformasi" Islam, yang pada gilirannya, melalui kontak-kontak intelektual, mempengaruhi masyarakat Islam Indonesia untuk melakukan pembaharuan Islam.
Persatuan Islam (Persis) didirikan di Bandung pada permulaan tahun 1920-an ketika orang-orang Islam di daerah-daerah lain telah lebih maju dalam berusaha untuk mengadakan pembaharuan dalam agama. Bandung kelihatan agak lambat memulai pembaharuan ini dibandingkan dengan daerah-daerah lain’ sungguhpun Sarekat Isalam telah beroperasi dikota ini semenjak tahun 1913. kesadaran tentang keterlambatan ini merupakan cambuk untuk mendirikan sebuah organisasi.
 Lahirnya Persis Diawali dengan terbentuknya suatu kelompok tadarusan (penalaahan agama Islam di kota Bandung yang dipimpin oleh H. Zamzam dan H. Muhammad Yunus, dan kesadaran akan kehidupan berjamaah, berimamah, berimarah dalam menyebarkan syiar Islam, menumbuhkan semangat kelompok tadarus ini untuk mendirikan sebuah organisasi baru dengan ciri dan karateristik yang khas. Kelompok tadarus ini bersifat kenduri yang diadakan secara berkala di rumah salah satu seorang kelompok yang berasal dari Sumatera tetapi yang telah lama tinggal di Bandung. Mereka adalah keturunan dari tiga keluarga yang pindah dari Palembang dalam abad ke 18, dan menjalin hubungan erat melalui perkawinan antar keluarga mereka serta diperkuat oleh kepentingan yang sama dalam usaha perdagangan, kemudian berlanjut dengan kontak antara anggota-anggota generasi yang datang kemudian dalam mengadakan studi tentang agama ataupun kegiatan-kegiatan lainnya. Tetapi mereka tidak merasa lagi bahwa mereka dari Sumatera, tetapi telah merasa sebagai benar-benar orang Sunda sehari-hari berbicara bahasa Sunda.[1]
Kelompok tadarusan yang dipimpin oleh H. Zamzam dan H. Muhammad Yunus ini dari lingkungan ketiga familia tadi memang mempunyai pengetahuan yang agak luas. Kedunya sebenernya adalah pedagang tetapi mereka masih mempunyai kesempatan dan waktu untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang Islam. Zamzam (1894-1952) menghabiskan waktunya selama tiga setengah tahun masa mudanya di Makkah di mana ia belajar di lembaga Darul-Ulum. Sekembali dari Makkah ia menjadi guru di Darul Muta’allimin, sebuah sekolah agama di Bandung (ssekitar tahun 1910) dan memjpunyai hubungan dengan Syekh Ahmad Surkati dari Al-Irsyad di Jakarta. Tetapi ia hanya dua tahun saja di sekolah ini. Muhammad Yunus, yang memperoleh pendidikan agama secara tradisional dan mengusai bahasa Arab, tidak pernah mengajar. Ia hanya berdagang, tetapi tidak pernah pula minatnya hilang dalam mempelajari agama. Kekayaanya menyanggupkan ia untuk membeli kitab-kitab yang ia perlukan, juga untuk anggota-anggota Persis setelah organisasi ini didirikan.[2]
Pada tanggal 12 September 1923, bertepatan dengan tanggal 1 Shafar 1342 H, kelompok tadarus ini secara resmi mendirikan organisasi yang diberi nama "Persatuan Islam" (Persis). Nama persis ini diberikan dengan maksud untuk mengembalikan umat Islam kepada tuntunan Al-Qur’an dan Al-Hadits yaitu: mengarahkan ruhul ijtihad dan jihad, berusaha dengan sekuat tenaga untuk mencapai harapan dan cita=cita yang sesuai dengan kehendak dan cita-cita organisasi, yaitu persatuan pemikiran Islam, persatuan rasa Islam, persatuan suara Islam, dan persatuan usaha Islam. Falsafah ini didasarkan kepada firman Allah Swt dalam Al Quran Surat 103 : "Dan berpegang teguhlah kamu sekalian kepada tali (undang-undang (aturan) Allah seluruhnya dan janganlah kamu bercerai berai". Serta sebuah hadits Nabi Saw, yang diriwayatkan oleh Tirmidzi, "Kekuatan Allah itu bersama al-jama'ah".[3]

B.  Tujuan dan Aktifitas Persis
Pada dasarnya, perhatian Persis ditujukan terutama pada faham Al-Quran dan Sunnah. Hal ini dilakukan berbagai macam aktifitas diantaranya dengan mengadakan pertemuan-pertemuan umum, tabligh, khutbah, kelompok studi, tadarus, mendirikan sekolah-sekolah (pesantren), menerbitkan majalah-majalah dan kitab-kitab, serta berbagai aktifitas keagamaan lainnya. Tujuan utamanya adalah terlaksananya syariat Islam secara kaffah dalam segala aspek kehidupan.
Untuk mencapai tujuan jam'iyyah, Persis melaksanakan berbagai kegiatan antara lain pendidikan yang dimulai dengan mendirikan Pesantren Persis pada tanggal 4 Maret 1936 untuk membentuk kader-kader yang mempunyai keinginan untuk menyebarkan agama. Usaha ini merupakan inisiatif Hassan, pesantren ini di pindahkan kepada Bangil, Jawa Timur, ketika Hassan pindah kesana dengan membawa 25 dari 540 siswa dari Bandung. Pesantren Persis ini berkembang berbagai lembaga pendidikan mulai dari Raudlatul Athfal (Taman kanak-kanak) hingga perguruan tinggi.5.Kemudian menerbitkan berbagai buku, kitab-kitab, dan majalah antara lain majalah Pembela Islam (1929), majalah Al-Fatwa, (1931), majalah Al-Lissan (1935), majalah At-taqwa (1937), majalah berkala Al-Hikam (1939), Majalah Aliran Islam (1948), majalah Risalah (1962), majalah berbahasa Sunda (Iber), serta berbagai majalah yang diterbitkan di cabang-cabang Persis. Selain pendidikan dan penerbitan, kegiatan rutin adalah menyelenggarakan pengajian dan diskusi yang banyak digelar di daerah-daerah, baik atas inisiatif Pimpinan Pusat Persis maupun permintaan dari cabang-cabang Persis, undangan-undangan dari organisasi Islam lainnya, serta masyarakat luas.[4]

C.  Kepemimpinan
Kepemimpinan Persis periode pertama (1923 1942) berada di bawah pimpinan H. Zamzam, H. Muhammad Yunus, Ahmad Hassan, dan Muhammad Natsir yang menjalankan roda organisasi pada masa penjajahan kolonial Belanda, dan menghadapi tantangan yang berat dalam menyebarkan ide-ide dan pemikirannya.
Pada masa pendudukan Jepang (1942-1945), ketika semua organisasi Islam dibekukan, para pimpinan dan anggota Persis bergerak sendiri-sendiri menentang usaha Niponisasi dan pemusyrikan ala Jepang. Hingga menjelang proklamasi kemerdekaan Pasca kemerdekaan. Persis mulai melakukan reorganisasi untuk menyusun kembali system organisasi yang telah dibekukan selama pendudukan Jepang, Melalui reorganisasi tahun 1941, kepemimpinan Persis dipegang oleh para ulama generasi kedua diantaranya KH. Muhammad Isa Anshari sebagai ketua umum Persis (1948-1960), K.H.E. Abdurahman, Fakhruddin Al-Khahiri, K.H.O. Qomaruddin Saleh, dll. Pada masa ini Persis dihadapkan pada pergolakan politik yang belum stabil; pemerintah Republik Indonesia sepertinya mulai tergiring ke arah demokrasi terpimpin yang dicanangkan oleh Presiden Soekarno dan mengarah pada pembentukan negara dan masyarakat dengan ideology Nasionalis, Agama, Komunis (Nasakom).
Setelah berakhirnya periode kepemimpinan K.H. Muhammad Isa Anshary, kepemimpinan Persis dipegang oleh K.H.E. Abdurahman (1962-1982) yang dihadapkan pada berbagai persoalan internal dalam organisasi maupun persoalan eksternal dengan munculnya berbagai aliran keagamaan yang menyesatkan seperti aliran pembaharu Isa Bugis, Islam Jama'ah, Darul Hadits, Inkarus Sunnah, Syi'ah, Ahmadiyyah dan faham sesat lainnya. 
Kepemimpinan K.H.E. Abdurahman dilanjutkan oleh K.H.A. Latif Muchtar, MA. (1983-1997) dan K.H. Shiddiq Amien (1997-2005) yang merupakan proses regenerasi dari tokoh-tokoh Persis kepada eksponen organisasi otonom kepemudaannya. (Pemuda Persis). Pada masa ini terdapat perbedaan yang ckup mendasar: jika pada awal berdirinya Persis muncul dengan isu-isu kontrobersial yang bersifat gebrakan shock therapy paa masa ini Persis cenderung ke arah low profile yang bersifrat persuasive edukatif dalam menyebarkan faham-faham al-Quran dan Sunnah.

D. Persis Masa Kini
Pada masa kini Persis berjuang menyesuaikan diri dengan kebutuhan umat pada masanya yang lebih realistis dan kritis. Gerak perjuangan Persis tidak terbatas pada persoalan persoalan ibadah dalam arti sempit, tetapi meluas kepada persoalan-persoalan strategis yang dibutuhkan oleh umat Islam terutama pada urusan muamalah dan peningkatan pengkajian pemikiran keislaman.
Dibawah kepemimpinan KH. Shiddiq Amien, anggota dan simpatan Persis beserta otonomnya tercatat kurang lebih dari 3 juta orang yang tersebar di 14 propinsi dengan 7 Pimpinan Wilayah, 33 Pimpinan Daerah, dan 258 Pimpinan Cabang. Bersama lima organisasi otonom Persis, yakni Persatuan Islam Istri, (Persistri) Pemuda Persis, Pemudi Persis, Himpunan Mahasiswa (HIMA) Persis, dan Himpunan Mahasiswi (Himi) Persis, aktifitas Persis telah meluas ke dalam aspek-aspek lain tidak hanya serangkaian pendidikan, penerbitan dan tabligh, akan tetapi telah meluas ke berbagai bidang garapan yang dibutuhkan oleh umat Islam melalui bidang pendidikan (pendidikan dasar/menengah hingga pendidikan tinggi), da'wah, bimbingan haji, perzakatan, sosial ekonomi, perwakafan, dan perkembangan fisik yakni pembangunan-pembangunan masjid dengan dana bantuan kaum muslimin dari dalam dan luar negri, menyelenggarakan seminar-seminar, pelatihan-pelatihan, dan diskusi (halakoh) pengkajian Islam. Demikian pula fungsi Dewan Hisbah sebagai lembaga tertinggi dalam pengambilan keputusan hukum Islam di kalangan Persis serta Dewan Hisab dan Dewan Tafkir semakin ditingkatkan aktifitasnya dan semakin intensif dalam penelaahan berbagai masalah hukum keagamaan, perhitungan hisab, dan kajian sosial semakin banyak dan beragam.

PENUTUP
            Berdasarkan uraian maka dapat disimpulkan bahwa Persatuan Islam merupakan organisasi Islam yang berdiri di Bandung, yang pada saat itu keadaannya memang lambat dalam mengadakan pembaharuan dalam agama. Walaupun, sebenarnya organisasi lain yang pada saat itu sudah ada. Kesadaran tentang hal keterlambatan ini merupakan salah satu faktor yang menyebabkan timbulnya Persatuan Islam. Persatuan. Persatuan Islam pada masanya berusaha untuk memajukan agama Islam dan mengembalikan Syari’at Islam kepada asal muasal dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. Dan hingga kinipun Persis mampu berdiri tegak dalam meluruskan Syari’atau Islam dalam berbagai macam hal ataupun masalah yang ada dinegara kita Indonesia.

DAFTAR PUSTAKA
Asrohah, Harun, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, Jakarta: Logos,1999
Djamaluddin.dkk, Kapita Selekta Pendidikan Islam, Bandung: Pustaka Setia,1998
Zuhairi.dkk, Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara,1997

[1] Zuhairi.dkk, Sejarah Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1997), hal: 187
[2]Ibid, hal: 187
3 Harun Asrohah.M.Ag, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, ( Jakarta: Logos, 1999 ), hal: 37
[4] Djamaluddin.dkK, Kapita Selekta Pendidikan Islam, ( Bandung: Pustaka Setia, 1998 ), hal: 81

Thursday, November 29, 2012

ISLAM DAN PERUBAHAN SOSIAL POLITIK


ISLAM DAN PERUBAHAN SOSIAL POLITIK

Perubahan masyarakat mempunyai arti yang luas. Dapat diartikan sebagai perubahan atau perkembangan, baik dalam arti positif maupun negatif. Pada umumnya motivasi (= pengaruh atas perubahan harapan dan kebutuhan-kebutuhan mental dan materi) disebabkan oleh kemajuan teknik atau “technical change”. Penemuan sebuah teknik sendiri mempunyai akibat tidak saja menguntungkan, namun juga merugikan.
“Segala sesuatu akan mengalami perubahan kecuali perubahan itu sendiri”. Demikian bunyi “hukum perubahan” yang kita semua telah memakluminya. Perubahan juga merupakan sunah kauniyah yang berlaku secara universal tanpa dibatasi tempat dan waktu. Perubahan tidak akan pernah berhenti kecuali pemilik perubahan (Allah SWT) memang menghendaki. Lalu, bagaimana Islam memandang sebuah perubahan, lebih spesifik lagi dalam memandang perubahan sosial ?.
Perubahan sosial atau di sebut juga transformasi sosial merupakan suatu keniscayaan dalam sebuah kehidupan manusia, baik secara individu maupun secara kolektif. Hal ini terjadi karena manusia secara alami memiliki sifat tidak statis dalam sebuah kondisi, Ia cenderung aktif merespons sejumlah kejadian yang ada di sekelilingnya. Respons inilah yang membuat hidup manusia selalu dinamis dan pada akhirnya menciptakan sejumlah gagasan dan ide-ide baru dalam rangka memenuhi harapan serta kebutuhannya. Dengan kondisi seperti tadi suasana bumi semakin hari semakin penuh dengan dinamika. Dalam perjalanan kehidupan bumi, dengan sendirinya akan semakin banyak hasil budaya (artefak) yang bisa kita jumpai dari tahun ke tahun serta abad ke abad. Itu semua tidak lepas dari wujud dinamika aktivitas manusia yang merupakan refresentasi kegiatan olah akal serta pengembangan sejumlah gagasan, ide serta pikiran yang terus di sempurnakan manusia dari waktu ke waktu. Hal inilah yang jelas membedakan tugas, peran dan fungsi manusia dari mahkluk lainnya, termasuk pula jika kita bandingkan dengan misalnya malaikat, yang diciptakan Allah SWT dengan fungsi, tugas dan peran yang statis sepanjang masa penciptaannya.
Dari bagan di atas kita bisa melihat bagaimana kondisi krisis multidimensi (nilai, moral, sosial, ekonomi dan politik) akhirnya akan berpengaruh besar pada ter-alienasi-nya sistem kekuasaan–terutama elitnya–dari kehidupan masyarakatnya. Alienasi yang terus-menerus terjadi mengakibatkan proses marginalisasi massa–rakyat–dari agenda perubahan bangsa. Penguasa pada akhirnya membutakan diri dari realitas sosial yan terjadi. Akumulasi persoalan ini akan menumbuhkan harapan (The rise expectation), sekaligus rasa prustasi (The rise of prustation) yang pada kondisi yang cukup parah akan sampai pada situasi penghancuran kepercayaan diri secara massal (The mass prustation).
Kondisi prustasi akibat ketidakjelasan banyak hal pada saatnya nanti akan menjadi daya pendorong yang besar bagi terciptanya perubahan sebuah sistem. Perubahan ini dalam konteks sosial lazim disebut dengan tranformasi sosial. Ada dua pilihan metode untuk melahirkan sebuah kondisi baru sebagai sebuah terapi bagi kondisi yang hendak di perbaiki tadi, pertama dengan cara evolusi dan kedua dengan cara revolusi

Model Evolusi
Cara evolusi merupakan cara yang paling mudah di lakukan, aman bagi jalannya sistem yang sedang berlaku tapi dari sisi waktu tempuh akan banyak menghabiskan hitungan yang tidak sedikit. Proses perubahan seperti ini juga cenderung hanya “melingkar” di tingkat elit saja dan sedikit sekali mengakomodasikan input dari grass root yang muncul ke permukaan sebagai reaksi atas berbagai kebijakan elit yang selama ini berkuasa. Konsekunsi logis dari perubahan model ini akan menempatkan rezim yang sedang asyik berada dalam tampuk kekuasaanya dengan leluasa memilih agenda-agenda perubahan yang ada berdasarkan “aman atau tidak” bagi kekuasaannya.

Tidaklah mengherankan model ini kurang populer, apalagi di negara-negara Dunia Ketiga yang perubahan politiknya secara umum masih cukup eksplosif. Tidak perlu tokoh yang cukup kharismatik atau terkenal dalam model ini, karena sepenuhnya kewenangan hendak kemana arah perubahan yang terjadi terletak di tangan penguasa sendiri. Elit penguasa serta pihak-pihak tertentu saja yang bisa terlibat dalam merumuskan berbagai persoalan yang ada, yang tentu saja sangat bias kepentingan. Figur-figur di luar lingkaran kekuasaan hanya memberikan respons-respons minimal sebatas masukan atau paling maksimal adalah melakukan pressure, itu pun jika ada ruang kebebasan yang cukup untuk melakukan hal itu.

Model Revolusi
Cara revolusi merupakan cara yang cukup populer di kalangan beberapa gerakan sosial atau gerakan pembebasan. Cara seperti ini kalau dihitung interval waktu yang dibutuhkannya ternyata relatif lebih singkat dari cara evolusi. Dalam prosesnya, cara ini juga dengan mudah dapat diketahui sejauhmana tingkat keberhasilannya, hal ini mengingat target dari perubahan yang diinginkan dengan cepat bisa di evaluasi. Akan tetapi dalam kondisi tertentu cara ini cukup beresiko. Bisa jadi dalam prosesnya yang singkat tersebut meminta banyak korban sebagai pra syarat dari prosesnya yang memang cukup reaktif dan terkesan sporadis dari sisi waktu maupun agenda-agenda yang di lakukan. Hasil dari cara ini bisa dengan mudah “ditampilkan” untuk dengan segera dapat di analisa apakah sesuai dengan tujuan revolusi itu atau tidak. Perubahan seperti ini secara umum bertujuan pada perubahan secara politik, khususnya perubahan tampuk kekuasaan yang ada.
Saat kita membicarakan tentang perubahan sosial secara revolutif, maka kita hampir tidak akan bisa memisahkan diri dari kaitannya dengan masalah politik di sebuah negara. Pemikiran tentang revolusi sendiri memiliki banyak varian pengertian dan pada umumnya berangkat dari sebuah proses kegelisahan, kecemasan serta ketidakpastian akan kondisi yang sedang terjadi. Sebelum sebuah revolusi sosial terjadi, biasanya terjadi suatu proses alienasi kekuasaan. Alienasi ini terjadi karena kekuasaan yang ada semakin meninggalkan kepentingan-kepentingan rakyat dan justeru seolah menjadi bagian lain dari pranata yang ada.
Revolusi sosial yang terjadi di Barat kondisinya berbeda dengan apa yang terjadi di Timur. Barat cenderung menunjukkan nilai-nilai perubahan itu berawal dari terancamnya nilai-nilai kebebasan individu atau kelompok oleh sebuah sistem yang dominan dan atau sedang berkuasa sedangkan revolusi di dunia Timur justeru berawal dari adanya sistem atau kekuatan dominan yang berlaku sewenang–wenang dengan mengabaikan kepentingan mayoritas yang ada. Kondisi obyektif golongan mayoritas yang sedang berada di bawah pengaruh kekuatan dominan ini sama sekali tidak memiliki political bargaining yang cukup sehingga hanya jadi obyek eksploitasi tirani minoritas yang sedang berkuasa. Selain kondisi ini, Timur juga memiliki “nilai tambah” yang lain dalam sisi sumber energi yang menumbuhkan kekuatan untuk bergerak dan melakukan perlawanan di kalangan mereka, yakni agama. Dunia Timur, sebagai dunia yang secara historis tidak bisa dilepaskan dengan pertumbuhan serta perkembangan agama-agama besar dunia, memiliki energi dan semangat yang cukup kuat untuk tetap bertahan dan kemudian bangkit melawan kekuatan yang mendominasinya, apalagi kekuatan itu merupakan kekuatan asing yang memiliki perbedaan yang tegas dari sisi nilai-nilai agama.
Kasus perang Jawa (1825-1830) misalnya, merupakan revolusi sosial masyarakat Jawa–khususnya di Yogyakarta dan sekitarnya–yang merasa hak-hak mereka di rampas dan kemerdekaan mereka di tindas oleh kekuatan Belanda sebagai sebuah kekuatan asing yang secara ideologi jelas berbeda. Perbedaan ini tentu saja mendapatkan legitimasi yang kuat dari seluruh elemen masyarakat Jawa saat itu, baik dari golongan adat hingga para Kyai serta Ulama yang ada. Pembenaran inilah yang kemudian menjadikan suluh utama yang membakar hebat semangat anti perlawanan terhadap Belanda. Semangat yang menyala ini kemudian bertambah lagi saat Pangeran Diponegoro, seorang bangsawan sekaligus tokoh spiritual yang mereka cintai terjun langsung melakukan perlawanan bersama-sama mereka. Perlawanaan ini walaupun pada ending-nya berakhir dengan kekalahan di pihak Jawa, namun secara jelas mampu mencerminkan tentang adanya sebuah pertentangan yang keras antara sebuah kekuatan yang berbeda yang kemudian di selesaikan dengan jalan kekerasan, yakni perang. Perang sebagai sebuah jalan penyelesaian dari sebuah masalah besar sesungguhnya tidak selalu mampu menyelesaikan berbagai masalah yang terjadi. Ada saat tertentu yang justeru bisa lebih baik penyelesaiannya tidak dengan perang.
Apabila kita bicara tentang hakikat revolusi, akan kita jumpai ada banyak perbedaan antara gagasan revolusi yang digagas para tokoh revolusi yang ada di dunia. Para tokoh ini selain karena latar belakang yang memang berbeda, juga memiliki lingkungan eksternal yang juga tidak sama. Barangkali hal ini yang mempengaruhi kenapa ada kekhasan-kekhasan dari sejumlah peristiwa revolusi di berbagai negara. Revolusi yang terjadi biasanya terkait erat dengan sitausi sosial masyarakat yang terjadi saat revolusi itu mulai digulirkan. Revolusi-revolusi sosial yang terjadi baik di dunia Barat maupun di dunia Timur secara garis besar di mulai saat ada seorang tokoh yang memang terus-menerus menyuarakan sebuah perubahan dan kemudian Ia konsisten dengan perubahan tersebut. Konsistensi terhadap ide perubahan seperti inilah yang akan menempatkan tokoh tadi di garda depan sebuah proses revolusi. Sang tokoh ini lah yang pada gilirannya nanti akan banyak menghasilkan produk pemikiran yang akan banyak di konsumsi oleh masyarakat. Pemikiran-pemikiran yang berkembang inilah yang sedikit banyak akan menyumbangkan arahan ke depan seperti apa proses perubahan besar–revolusi–yang hendak di capai. Apabila sang tokoh ini mengalami “kecelakaan sejarah”–dengan misalnya di tangkap, dipenjarakan atan bahkan “di habisi” pihak penguasa–maka harus ada tokoh lain yang menggantikan posisi kunci ini. Semakin banyak tokoh yang muncul ke permukaan untuk melawan arus besar ide atau gagasan yang sedang berkembang–atau bahkan barangkali sudah di anggap mapan– maka akan semakin besar sebuah issu bisa menggelinding ke tingkat massa. Kondisi demikian di kenal dengan snow ball effect, dimana ibarat orang membuat bola salju kemudian di gelindingkan maka lama kelamaan bola salju ini akan membesar sedikit demi sedikit menjadi sebuah kekuatan yang sukar untuk di hadang dengan cara apapun.
Ketika kekuatan perlawanan yang ada semakin besar, maka akan semakin sukarlah kekuatan yang sedang dominan atau lazim di sebut kaum penguasa meredam arus yang berlawanan arah tadi. Dalam wacana revolusi apabila kekuatan lawan sudah memilki kekuatan yang cukup, maka dengan sendirinya akan sampi pada kondisi vis-à-vis antara dua kekuatan yang berbeda. Kondisi ini kemudian tinggal di lihat saja mana yang mampu mengungguli lawannya Ia lah yang akan jadi pemenangnya. Hal ini memang tidak berlaku mutlak, tapi paling tidak ini lah yang umumnya terjadi pada sebuah perubahan baru yang hendak dilahirkan lewat sebuah proses revolusi.
Revolusi sosial, kebudayaan maupun politik secara kelahirannya tidak terlalu jauh berbeda kondisinya, Ia lahir dari sebuah pertentangan hebat antara dua buah kekuatan yang saling berhadapan, yang satu sama lain siap saling mengalahkan–bahkan menghabisi–musuhnya. Kalau kekuatan yang hendak merubah mengalami kekalahan sebelum berkembang, maka tentu saja sejarah akan menilai revolusi yang terjadi itu tidak mendapatkan dukungan mayoritas massa karena terbukti tidak mampu menggerakan massa untuk secara bersama mengganti sisten lama yang sedang berlaku. Bukankah secara sederhana, suksesnya sebuah revolusi ditandai dengan tumbangnya sistem lama dan kemudian digantikan oleh sistem/tatanan baru.

Model Reformasi
Kedua pilihan tadi pada dasarnya tidak akan terlepas dari sejumlah kelebihan dan kekurangan, paling tidak masih ada cara Ketiga yang ternyata banyak negara menggunakannya untuk merombak sistem yang sedang berjalan. Cara ini pun sebenarnya bukan cara yang bersih dari bakal adanya korban yang jatuh tapi, dalam beberapa hal cara ini merupakan cara kompromis antara penguasa dengan rakyatnya. Cara ini kalau bisa berjalan dengan baik akan menjembatani kehawatiran-kehawatiran yang muncul berkaitan dengan prediksi akan adanya korban yang ada. Dalam konteks Indonesia, pilihan terhadap cara ini bisa kita saksikan dalam rentang perjalanan sejarah bangsa ini saat mengambil middle way sebagai sebuah pilihan dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara. Konsep jalan tengah ini ter-representasikan saaat TNI meluncurkan sebuah paradigma baru dalam menata dirinya dengan wujud Dwi Fungsi ABRI, ternyata cara seperti ini pula yang pada akhirnya–dengan kesadaran atau terpaksa–banyak mengilhami kalangan terbesar bangsa ini dalam mereformasi dirinya pada peristiwa puncak reformasi di bulan Mei 1998 sebagai sebuah momentum perubahan besar bangsa.

 Perubahan Masyarakat Dalam Pandangan Islam
Ketika muncul pertanyaan bagaimana Islam memandang perubahan sosial. Seperti apa model yang dikehendaki Islam dalam menata sejumlah permasalahan sosial dan model perubahan apa yang paling sesuai dengan Islam ?. Maka sesungguhnya jawaban ini tidak sederhana, tidak bisa disampaikan secara singkat. Ada begitu banyak persoalan-persoalan yang terkait dengan jawaban pertanyaan tadi. Pertama karena kompleksnya cara pemahaman terhadap Islam, kedua karena perspektif tiap bagian dari umat bisa saja berbeda dalam pengambilan metode atau cara dalam melakukan perjuangan dan pengimplementasian dari berbagai cara pandang yang berbeda tadi. Satu kelompok dengan kelompok lainnya, walaupun sama-sama Islam, bisa saja menerapkan a langkah dan metode yang berbeda.
 Islam sendiri kalau kita kaji secara lebih dalam, maka akan sampai pada kesimpulan bahwa Islam adalah agama yang memang sempurna bagi aturan kehidupan manusia. Islam ini jika jika kita artikan secara sederhana dalam bahasa Arab bisa berarti damai, kepatuhan dan ketaatan. Dien Islam juga dapat berarti penerimaan total terhadap ajaran dan petunjuk Allah sebagaimana diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Sedangkan orang yang berislam secara umum disebut seorang muslim. Pengertian dari seorang muslim adalah seseorang yang mempercayai Allah dan berupaya mengatur seluruh kehidupannya berdasarkan petunjuk yang diturunkan-Nya serta sunah-Nya. Ia juga bekerja untuk membangun masyarakat manusia di atas dasar tauhid.
 Islam telah menetapkan hak-hak asasi manusia yang menyeluruh. Hak-hak ini harus dilaksanakan dan dihormati dalam setiap keadaan. Untuk menjalankannya, Islam tidak hanya melengkapinya dengan jaminan hukum, tapi juga sistem moral yang sangat efektif. Demikianlah, apapun yang mengarah kepada kesejahteraan individu atau masyarakat, dalam Islam di sebut moral baik, dan apapun yang merugikan di sebut moral buruk. Islam sangat menekankan pentingnya kecintaan kepada Allah dan kecintaan kepada sesama manusia, dan menentang formalisme. Perhatikan ayat Al Quran berikut ini : ”Bukankah kebajikan itu engkau hadapkan wajah ke arah Timur dan Barat akan tetapi kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan, dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertaqwa” (QS. Al-Baqarah : 177)
 Dengan meletakan ridha Allah sebagai tujuan hidup manusia, Islam telah dilengkapi dengan standard moral yang tertinggi. Ini membuka cakrawala yang tak terbatas bagi perkembangan moral manusia dalam berhubungan dengan manusia yang lain. Aturan hubungan sesama manusia jika begitu bukan sebatas kepatutan atau sopan santun semata, tapi sangat transendental sekali sifatnya. Jika begitu, maka antara manusia yang satu dengan manusia yang lain punya kewajiban sama, yakni sama-sama makhluk Allah yang punya kewajiban mengabdi dan menyembah kepada-Nya.

Dalam konteks perubahan sosial, hal ini sangat relevan karena apapun agenda perubahan, baik yang diinginkan dirubah dalam waktu cepat (revolusi), lambat (evolusi) ataupun tengah-tengah antara keduanya (reformasi) menjadi kurang penting, yang justeru menjadi hal utama adalah bahwa perubahan yang dilakukan harus dalam bingkai nilai-nilai Islam. Ini artinya cepat lambatnya perubahan tidak terlalu menjadi persoalan dalam cara pandang Islam. Dan mengenai korban yang umumnya terjadi dalam proses perubahan, apabila kita gunakan perspektif Islam, maka perubahan yang ada harus tetap dilakukan dengan cara-cara yang akhsan (baik) sehingga dengan hampir tidak mungkin perubahan dilakukan dengan cara radikal atau penuh dengan kekerasan. Kalaupun ada korban, itu merupakan implikasi dari proses yang terjadi.